Popular Posts

Blogger templates

Blogger news

Labels

Blogroll

About

Pages

Pengikut

Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Senin, 16 Januari 2012
  Etika adalah pembahasan mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya (ought to), benar (right), dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau good dan teori tentang kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani. Bernaung di bawah filsafat moral . Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan kewajiban itu, dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika pada dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam situasi ini.
·         Ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral. Kelompok pertama, memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral, bebas dari nilai-nilai ontologi dan aksiologi. Dalam hal ini, fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk. Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada waktu Galileo. Kelompok kedua, berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan pemilihan obyek penelitian, kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Hal ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita .
·         Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi, kelompok yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi, di mana martabat manusia menjadi lebih rendah, manusia akan dijadikan obyek aplikasi teknologi kelimuan. Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini, yaitu : (1) Secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya Perang Dunia II. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi genetika dan teknik perubahan sosial.
[Disarikan oleh Ali Usman, S.Fil.I, M.S.I]
Jumat, 23 Desember 2011


 

ANALISIS BUTIR SOAL DENGAN PROGRAM ITEMAN

Das Salirawati


 

ITEMAN merupakan program komputer yang digunakan untuk menganalisis butir soal secara klasik. Program ini termasuk satu paket program dalam MicroCAT°n yang dikembangkan oleh Assessment Systems Corporation mulai tahun 1982 dan mengalami revisi pada tahun 1984, 1986, 1988, dan 1993; mulai dari versi 2.00 sampai dengan versi 3.50. Alamatnya adalah Assessment Systems Corporation, 2233 University Avenue, Suite 400, St Paul, Minesota 55114, United States of America.

Program ini dapat digunakan untuk: (1) menganalisis data file (format ASCII) jawaban butir soal yang dihasilkan melalui manual entry data atau dari mesin scanner; (2) menskor dan menganalisis data soal pilihan ganda dan skala Likert untuk 30.000 siswa dan 250 butir soal; (3) menganalisis sebuah tes yang terdiri dari 10 skala (subtes) dan memberikan informasi tentang validitas setiap butir (daya pembeda, tingkat kesukaran, proporsi jawaban pada setiap option), reliabilitas (KR-20/Alpha), standar error of measurement, mean, variance, standar deviasi, skew, kurtosis untuk jumlah skor pada jawaban benar, skor minimum dan maksimum, skor median, dan frekuensi distribusi skor.

Saat ini telah tersedia ITEMAN tinder Windows 95, 98, NT, 2000, ME, dan XP dengan harga $299. Sebelum menggunakan program Iteman, bacalah manualnya/buku petunjuk pengoperasionalnya secara seksama. Sebagai contoh, tahap awal adalah membuat "file data" (control tile) yang berisi 5 komponen utama.

1.    Baris pertama adalah baris pengontrol yang mendeskripsikan data.

2.    Baris kedua adalah daftar kunci jawaban setiap butir soal.

3.    Baris ketiga adalah daftar jumlah option untuk setiap butir soal.

4.    Baris keempat adalah daftar butir soal yang hendak dianalisis (jika butir yang akan dianalisis diberi tanda Y (yes), jika tidak diikutkan dalam analisis diberi tanda N (no).

5.    Baris kelima dan seterusnya adalah data siswa dan pilihan jawaban siswa.

Setiap pilihan jawaban siswa (untuk soal bentuk pilihan ganda) diketik dengan menggunakan huruf, misal ABCD atau angka 1234 untuk 4 pilihan jawaban atau ABCDE atau 12345 untuk 5 pilihan jawaban.


 

Cara menggunakan program ini, pertama data diketik di DOS atau Windows.

Cara termudah adalah menggunakan program Windows yaitu dengan mengetik data di tempat Notepad. Caranya adalah klik Start-Programs-Accessories-Notepad.


 


 


 


 

Gambar 1. Contoh pengetikan data untuk soal bentuk pilihan ganda


 

30 o n 6    [Jumlah soal, kode omit, kode tidak dijawab, jmlh karakterl

43142442113424141324213411334 [Kunci jawaban dapat ditulis dengan angka atau hurufl

444444444444444444444444444444 [Jumlah-pilihan] YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY [Soal yang dianalisis, bila tidak

dianalisis ditulis NJ

Dita         123123244113424143324213211334 (Jawaban siswa, dapat ditulis Fauria        423142243413424141124213111233 dengan angka atau huruf)
Fara     423142242113424141324213411334 Nafis     143142242433434141324413431334 Raufan    243142242413434141411213211134 Dina     423342224113423141421213044331


 

Gambar 2. Contoh pengetikan data untuk skala Likert.


 

30 x Y 10 [Jumlah soal, kodc omit, kode tidak dijawab, jmlh karakter]

+++++++    +++++    +++++--

777777777777777777777777777777

111111111111111111111111111111 

[Positif/negative pernyataan]

[Jumlah pilihan]

[Kode skala] 

Nurul 

211214123242343423111231243767 

[Jawaban siswa, dapat ditulis 

Imam 

312214214242443423224562332565 

dengan angka atau huruf) 

Ali 

2242123313324431243254624371YY

 

Kiki 

22421112X432443323226556664122 

 

Chanan 

32421424234244344322653546X343 

 


 

Gambar 3. Contoh lain pengetikan data untuk soal bentuk pilihan ganda


 


 

Langkah kedua, data yang telah diketik disimpan, misal disimpan pada file: Tes1.txt. Selanjutnya untuk menggunakan program Iteman yaitu dengan mengklik icon Iteman. Kemudian isilah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di layar komputer seperti berikut.


 

Langkah ketiga adalah membaca hasil, yaitu dengan mengklik icon hsltes1. Hasilnya adalah seperti pada contoh Gambar 4 berikut.


 

Gambar 4. Hasil analisis statistik butir soal dengan program ITEMAN


 


 

Keterangan:

Prop. Correct= tingkat kesukaran butir:,

Biser dan Point Biser.= korelasi Biserial dan Korelasi Point Biserial,

Alt.= alternative/pilihan jawaban,

Prop. Endorsing= proporsi Jawaban pada setiap option


 


 


 


 


 

Gambar 6. Hasil scor butir soal pilihan ganda dari ITEMAN versi 3.00

24 1 Scores for examinees from file tes1.txt

IWAN SUYAWAN 20.00

TIKA HATIKAH 16.00

YENNY SUKHRAINI 18.00

WIJI PURWANTA 15.00

HENNY LISTIANA 16.00

UJANG HERMAWAN 16.00

NIKEN IRIANTI 17.00

MIMIK RIATIN 18.00

NUR WAHYU RISDIANTO 17.00

RURI SUSIYANTI 17.00

RYSA DWI INDAH YATI 19.00

ANDRIKO 15.00

JOKO SLAMET 5.00

LUKMAN NURHUDA 17.00

OTAH PIANTO 16.00

AKHMAD SYAMSURIZAL 19.00

DENY TRI SETIAWAN 18.00

DEWI SETYOWATI 13.00

ISMAIL SHOLEH 17.00

JEMI INTARYO 16.00


 

Hasil korelasi point-biserial (rpbi) dan korelasi biserial (rpbis) berasal dari perhitungan rumus berikut.


 


 


 

Yp    =    mean skor pada kriterion siswa yang menjawab benar soal.

Yt dan St    =    mean dan standard deviasi kriterion seluruh siswa.

p     =    proporsi siswa yang menjawab benar soal.

U    =    ordinat kurva normal.


 

Korelasi point-biserial (r pbi) tidak sama dengan 0, korelasi biserial (r bis) paling sedikit 25% lebih besar daripada r pbi untuk perhitungan pada data yang sama. Korelasi point-biserial (r pbi) merupakan korelasi product moment antara skor dikotomus dan pengukuran kriterion; sedangkan korelasi biserial (r bis) merupakan korelasi product moment antara variabel latent distribusi normal berdasarkan dikotomi benar-salah dan pengukuran kriterion.

Menurut Millman dan Greene (1989) dalam Educational Measurement, kedua korelasi ini memiliki kelebihan masing-masing. Kelebihan korelasi point biserial adalah: (1) memberikan refleksi kontribusi soal secara sesungguhnya terhadap fungsi tes. Maksudnya ini mengukur bagaimana baiknya soal berkorelasi dengan kriterion (tidak bagaimana baiknya beberapa secara abstrak); (2) sederhana dan langsung berhubungan dengan statistik tes; (3) tidak pernah mempunyai value 1,00 karena hanya variabel-variabel dengan distribusi bentuk yang sama yang dapat berkorelasi secara sempurna, dan variabel kontinyu (kriterion) dan skor dikotomus tidak mempunyai bentuk yang sama. Kelebihan korelasi biserial adalah: (1) cenderung lebih stabil dari
sampel ke sampel, (2) penilaian lebih akurat tentang bagaimana soal dapat diharapkan untuk membedakan pada beberapa perbedaan point di skala abilitas, (3) value r bis yang sederhana lebih langsung berhubungan dengan indikator diskriminasi kurva karakteristik butir (Item Characteristic Curve atau ICC). Kebanyakan para ahli pendidikan, khususnya di Indonesia, banyak yang menggunakan korelasi point biserial daripada korelasi biserial.

Kriteria baik tidaknya butir soal menurut Ebel dan Frisbie (1991) dalam Essentials of Educational Measurement halaman 232 adalah bila korelasi point biserial: >0.40=butir soal sangat baik; 0.30 - 0.39=soal baik, tetapi perlu perbaikan; 0.20 - 0.29=soal dengan beberapa catatan, biasanya diperlukan perbaikan; < 0. 19=soal jelek, dibuang, atau diperbaiki melalui revisi. Adapun tingkat kesukaran butir soal memiliki skala 0 - 1. Semakin mendekati 1 soal tergolong mudah dan mendekati 0 soal tergolong sukar.


 

  1. Interpretasi Hasil Analisis Program ITEMAN


     

Hasil dari analisis ITEMAN dapat berupa dua file yaitu file statistik dan file skor. Keduanya berupa file ASCII yang dapat dilihat dengan menggunakan program pengolah kata (word processor).

File statistik hasil analisis ITEMAN dapat dibedakan ke dalam 2 bagian, yaitu : Statistik butir soal dan statistik tes (skala). Gambar 4 di atas menunjukkan hasil analisis statistik butir soal, sedangkan gambar 5 menunjukkan hasil analisis statistik tes. Interpretasi kedua gambar di atas dapat diuraikan sebagai berikut :


 

  1. Statistik Butir Soal

Untuk tes/skala yang terdiri dari butir-butir soal yang bersifat dikotomi misalnya pilihan ganda, statistik berikut adalah output dari setiap butir soal yang dianalisis : (lihat gambar 4)

  1. Seq. No adalah nomor urut butir soal dalam file data.
  2. Scala-item adalah nomor urut butir soal dalam skala (tes/subtes)
  3. Prop. Correct adalah proporsi siswa( peserta tes) yang menjawab benar butir soal. Nilai ekstrim (mendekati nol atau satu) menunjukan bahwa butir soal tersebut terlalu sukar atau terlalu mudah untuk peserta tes. Indeks ini disebut juga indeks tigkat kesukaran soal secara klasikal.
  4. Biser adalah indeks daya pembeda soal dengan menggunakan koefisien korelasi biserial. Nilai positif menunjukan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, mempunyai skor yang relatif tinggi dalam tes/skala tersebut. Sebaliknya nilai negatif menunjukan bahwa peserta tes yang menjawab benar butir soal, memperoleh skor yang relatif rendah dalam tes/skala tersebut. Untuk statistik pilihan jawaban (alternative) korelasi biserial negatif sangat tidak dikehendaki untuk kunci jawaban dan sangat dikehendaki untuk pilihan jawaban yang lain (pengecoh).
  5. Point-biser adalah juga indeks daya pembeda soal dan pilihan jawaban (alternatif) dengan menggunakan koefisien korelasi point-biserial. Penafsirannya sama dengan statistik biserial.

    Catatan : Nilai -9.000 menunjukan bahwa statistik butir soal atas pilihan jawaban tidak dapat di hitung. Hal ini sering kali terjadii apabila tidak ada peserta tes yang menjawab butir soal/ pilihan jawaban tersebut

  6. Statistik pilihan jawaban (alternative) memberikan informasi yang sama dengan statistik butir soal. Perbedaannya adalah bahwa statistik pilihan jawaban dihitung secara terpisah. Untuk setiap piihan jawaban dan didasarkan pada dipilih tidaknya alternatif tersebut, bukan pada benarnya jawaban. Tanda (*) yang muncul di sebelah kanan hasil analisis menunjukan kunci jawaban.


 

  1. Statistik Tes/Skala

Gambar 5 menunjukkan hasil analisis statistik untuk tes/skala dengan interpretasi berikut :

  1. N of items adalah jumlah butir soal dalam tes/skala yang ikut dianalisis. Untuk tes/skala yang terdiri dari butir-butir soal dikotomi, hal ini merupakan jumlah total butir soal dalam tes /skala.
  2. N of examines adalah jumlah peserta tes yang digunakan dalam analisis.
  3. Mean adalah skor rata-rata peserta tes.
  4. Variance adalah varian dari distribusi skor peserta tes yang memberikan gambaran tentang sebaran skor peserta tes.
  5. Std. Dev adalah deviasi standar dari distribusi skor peserta tes. Deviasi standar adalah akar dari variance.
  6. Skew adalah kemiringan distribusi skor peserta tes yang memberikan gambaran tentang bentuk distribusi skor peserta tes. Kemiringan negatif menunjukan bahwa sebagian besar skor berada pada bagian atas (skor tinggi) dari distribusi skor. Sebaliknya kemiringan positif menunjukan bahwa sebagian besar skor berada bagian bawah (skor rendah) dari distribusi skor. Kemiringan nol menunjukan bahwa skor berdistribusi secara simetris di sekitar skor rata-rata (Mean).
  7. Kurtosis adalah puncak distribusi skor yang menggambarkan kelandaian distribusi skor dibanding dengan distribusi normal. Nilai positif menunjukan distribusi yang lebih lancip (memuncak) dan nilai negatif menunjukan distribusi yang lebih landai (merata). Kurtosis untuk distribusi normal adalah nol.
  8. Minimun adalah skor terendah peserta tes dalam tes/skala tersebut.
  9. Maximum adalah skor tertinggi peserta tes dalam tes/skala tersebut.
  10. Median adalah skor tengah dimana 50% skor berada pada atau lebih rendah dari skor tersebut.
  11. Alpha adalah koefisien reliabilitas alpha untuk tes/skala tersebut yang merupakan indeks homogenitas tes/skala. Koefisien alpha bergerak dari 0,0 sampai 1,0. Koefisien alpha hanya cocok digunakan pada tes yang bukan mengukur kecepatan (speeded test ) dan yang hanya mengukur satu dimensi (single-trait).
  12. SEM adalah kesalahan pengukuran standar untuk setiap tes/skala. SEM merupakan estimit dari deviasi standar kesalahan pengukuran dalam skor tes.
  13. Mean P adalah rata-rata tingat kesukaran semua butir soal dalam tes secara klasikal dihitung dengan cara mencari rata-rata proporsi peserta tes yang menjawab benar untuk semua butir soal dalam tes/skala.
  14. Mean item-Tot nilai rata-rata indeks daya pembeda dari semua soal dalam tes/skala yang diperoleh dengan menghitung nilai rata-rata point biserial dari semua soal dalam tes/skala.
  15. Mean-Biserial adalah juga nilai rata-rata indeks daya pembeda yang diperoleh dengan menghitung nilai rata-rata korelasi biserial dari semua butir soal dalam tes/skala.
  16. Scale intercorrelation adalah indeks korelasi antara skor-skor peserta tes yang diperoleh dari setiap subtes/subskala.


     

    1. File Skor

    Program iteman juga memberikan hasil skor untuk setiap peserta tes yang menunjukan jumlah benar dari seluruh jawaban. Dari contoh diatas, kita dapat melihat skor peserta tes pada file CONTOH_1.SCR seperti pada gambar 6.

    Baris pertama dari output menunjukkan jumlah karakter untuk identitas peserta tes (dalam contoh di atas 24), jumlah skala (dalam contoh di atas 1), dan nama file input. Kemudian hasil skala diberikan secara berurutan sesuai dengan urutan peserta tes dalam file data.


 

BAB III
KESIMPULAN


 

Berdasarkan pemaparan di atas ada beberapa kesimpulan yang bisa diambil yaitu:

  1. Salah satu cara untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang paling efektif adalah dengan jalan mengevaluasi tes hasil belajar yang diperoleh dari proses belajar mengajar
  2. Pengolahan tes hasil belajar dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar dapat dilakukan antara lain dengan melakukan analisis soal
  3. Tujuan khusus dari analisis butir soal ialah mencari soal tes mana yang baik dan mana yang tidak baik, dan mengapa item atau soal itu dikatakan baik atau tidak baik
  4. Soal dapat di analisis dengan menggunakan analisis kualitatif (teoritis) dan kuantitatif (empiris)
  5. Salah satu cara analisis butir soal secara kuantitatif dapat dilakukan dengan menggunakan program komputer, seperti ITEMAN, SPSS, SPS, Statpro, Microsat, Bigstep, Anates dll


 

DAFTAR PUSTAKA


 

Depdikbud, 1999, Pengelolaan Pengujian Bagi Guru Mata Pelajaran, Jakarta.


 

Djemari Mardapi, 2004, Penyusunan Tes Hasil Belajar. Yogyakarta: UNY


 

Ign. Masidjo. 1995, Penilaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.


 

Nana Sudjana, 2005, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya


 

Ngalim Purwanto, 2004, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.


 

Suharsimi Arikunto, 2006, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara


 

Sukardjo, 2008, Modul Perkuliahan Evaluasi Pembelajaran Sains Pascasarjana UNY. Yogyakarta

PRINSIP BEBAS NILAI DAN TERIKAT NILAI DALAM ILMU

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah: Filsafat Ilmu

Dosen Pengampu: Ali Usman


 


 


 

Disusun Oleh:

Dyah Sri Maftuhah        (09670025)

Alfian Nugroho        (09670029)

Hamzatul Munir        (09670030)

Putri Kusuma Ramadhani    (09670032)

Achmad Munaji        (10670043)


 

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2011/2012

BAB I

PENDAHULUAN


 

I. Latar Belakang

            Ilmu pengetahuan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Namun, akibat perkembangan dan tuntutan zaman obyektifitas terhadap ilmu pengetahuan pun. Bagaimana seharusnya ilmu pengetahuan itu menjadi problematika dalam kebutuhan zaman sekarang ini. Dikarenakan, penggunaan ilmu pengetahuan dalam kehidupan akan berdampak besar terhadap hasil dari suatu proses aplikasi ilmu.

            Aturan – aturan sosial juga ingin berperan dalam ilmu pengetahuan. Sehingga juga sangat mempengaruhi dalam proses penggunaan ilmu pengetahuan ke dalam kehidupan.


 

II. 2. Perumusan Masalah

1.      Apa problem etis dalam ilmu pengetahuan?

2.      Bagaimana sebenarnya prinsip bebas nilai dan terikat nilai dalam ilmu pengetahuan?


 

BAB II

ISI


 

II. 1. Problem Etis Dalam Ilmu Pengetahuan

            Rasional ilmu pengetahuan terjadi sejak Rene Descartes dengan sikap skeptis  - metodisnya meragukan segala sesuatu, kecuali dirinya sedang ragu – ragu (cogito ergo sum). Sikap ini berlanjut pada masa Aufklarung, suatu era yang merupakan usaha manusia untuk mencapai pemahaman rasional tentang dirinya dan alam.

Weber menyatakan bahwa ilmu sosial harus bebas nilai, tetapi ilmu – ilmu sosial harus menjadi nilai yang relevan. Nilai – nilai itu harus di implikasikan oleh bagian – bagian praktis ilmu sosial jika praktik itu mengandung tujuan atau rasional. Habermas berpendirian teori sebagai produk ilmiah tidak pernah bebas nilai. Pendidirian ini diwarisi Habermas dari pandangan Husserl yang melihat fakta atau ojek alam diperlukan oleh ilmu pengetahuan sebagai kenyataan yang sudah jadi. Habermas menegaskan lebih lanjut bahwa ilmu pengetahuan alam terbentuk berdasarkan kepentingan teknis. Ilmu pengetahuan alam tidaklah netral, karena isinya tidak lepas sama sekali dari kepentingan praktis. Kepentingannya adalah memelihara serta memperluas bidang alaing pengertian antar manusia dan perbaikan komunikasi. Kepentingan itu bekerja pada tiga bidang, yaitu pekerjaan, otoritas, dan bahasa. Pekerjaan merupakan ilmu pengetahuan alam, otoritas merupakan kepentingan ilmu sosial, dan bahasa merupakan kepentingan ilmu sejarah dan hermeneutika.


 

II. 2. Bebas Nilai dan Terikat Nilai Dalam Ilmu\

a)      Bebas Nilai

Ilmu bebas nilai atau dalam bahasa inggris sering disebut dengan value free menyatakan bahwa ilmu dan teknologi adalah bersifat otonom. Ilmu secara otonom tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan nilai. Pembatasan etis hanya akan menghalangi eksplorasi pengembangan ilmu. Bebas nilai mengartikan bahwa semua kegiatan terkait pada penyelidikan ilmiah harus didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Etika hanya bekerja ketika ilmu telah selesai bekerja. Etika hanya bisa diterapkan pada manusianya, yaitu ilmuan. Yang harus dikenai nilai dan pernyataan normatif adalah ilmuan sebagai manusia. Kelompok ini memegangi pandangan Francis Bacon bahwa ilmu adalah kekuasaan, berkat atau malapetaka terletak pada orang yang menggunakan kakuasaan tersebut. Kekuasaan terletak pada si pemilik pengetahuan. Josep Situmorang menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga faktor sebagai indikator bahwa ilmu itu bebas nilai, yaitu:[1]

1.      Ilmu harus bebas dari pengandaian-pengandaian nilai. Maksudnya adalah bahwa ilmu harus bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor politis, ideologis, religius, kultural, dan sosial.

2.      Diperlukan adanya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin. Kebebasan di sini menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri.

3.      Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat kemajuan ilmu, karena nilai etis sendiri itu bersifat universal.

Persoalan – persoalan disiplin ilmu empirik adalah bahwa ian dipecahkan, bukan secara evaluatif. Tetapi persoalan – persolan ilmu sosial dipilih atau di tentukan melaluia nilai yang relevan dari fenomena yang di tampilkan.[2]

b)      Terikat Nilai

Berbeda dengan ilmu yang bebas nilai, ilmu yang terikat nilai (value bond) memandang bahwa ilmu itu selalu terikat dengan nilai dan harus dikembangan dengan mempertimbangkan aspek nilai dan terutama nilai. Pengembangan ilmu jelas tidak mungkin bisa terlepas dari nilai-nilai, lepas dari kepentingan-kepentingan baik politis, ekonomis, religius, ekologis, dan lain-lain sebagainya. Dalam pandangan terikat nilai ini kata "nilai" juga memiliki makna yang lebih luas. Pertama, makna nilai bukan hanya dalam konteks baik buruk tetapi juga dalam konteks ada kepentingan atau tidak. Kedua, terikat nilai tidak hanya berlaku bagi ilmuan tetapi juga bagi ilmu itu sendiri, sehingga memasuki wilayah epistemologis. Keduanya saling tekait.

Beberapa filosofis menunjukkan bahwa ilmu tidak bebas dari kepentingan. Diantaranya, menurut Gadamer, ilmu hanya bisa bekerja karena ia tertancap dalam tradisi yang telah berlangsung lama sehingga seseorang tidak mungkin netral terhadap seluruh tradisi. Justru tradisi yang memungkinkan manusia membangun pengetahuan atau ilmu. Michel Foucault juga menunjukkan bahwa ilmu merupakan kekuasaan. Ilmu melahirkan kekuasaan, dan kekuasaan melahirkan ilmu. Kuasa adalah kekuatan untuk mendefinisikan dan menisiplinkan, normalisasidan regulasi pihak lain melalui pertukaran wacana. Ilmu merupakan bangunan kompleks wacana. Jurgen Habermas berpendapat bahwa ilmu bahkan ilmu alam sekalipun tidaklah mungkin bebas nilai karena pengembangan setiap ilmu selalu selalu ada kepentingan-kepentingan. Dia membedakan tiga macam ilmu dengan kepentingannya masing-masing.

1.      Berupa ilmu-ilmu alam yang bekerja secara empiris-analitis. Ilmu-ilmu ini menyelidiki gejala-gejala alam secara empiris dan menyajikan hasil penyelidikan itu untuk kepentingan-kepentingan manusia. Teori-teori ilmiah disusun, agar dirinya dapat diturunkan pengetahuan-pengetahuan terapan yang bersifat teknis. Pengetahuan teknis ini menghasilkan teknologi sebagai upaya manusia mengelola dunia atau alamnya. Maka tampaklah disini bahwa ilmu-ilmu ini memperlihatkan pola hubungan manusia dan dunia, manusia mengelola dan menggarap dunia. Dalam ilmu-ilmu ini ditunjukkan aspek pekerjaan dalam sosialita manusia (labor), sedang kepentingan manusia yang terkandung dalam ilmu itu adalah prediksi dan pengawasan terhadap alam.

2.      Pengetahuan yang memiliki pola yang sangat berlainan, sebab tidak menyelidiki sesuatu dan tidak menghasilkan sesuatu, melainkan memahami manusia sebagai sesamanya, memperlancar hubungan sosial. Oleh Habermas ini disebut dengan studi histori-hermeneutik. Sifat historis memperlihatkan adanya gejala perkembangan dari objek yang diselidiki, yakni manusia. Hasil yang dihasilkan disini adalah kemampuan komunikasi, saling pengertian karena pemahaman makna. Dan hermeneutik yaitu penafsiran menurut tata cara tertentu yang dihasilkan oleh pengetahuan itu. Aspek kemasyarakatan yang dibahas disini adalah hubungan sosial atau interaksi, sedangkan kepentingan yang di tuju oleh pengetahun ini adalah pemahaman makna.

3.      Teori kritis, teori yang membongkar penindasan dan mendewasakan manusia pada otonomi dirinya sendiri. Disini, sadar diri sangat dipentingkan. Aspek sosial yang mendasarinya adalah dominasi kekuasaan dan kepentingan yang di kejar adalah pembebasan atau emansipasi manusia.
Jelas sekali dalam pandangan Harbermas bahwa ilmu itu sendiri dikonstruksi untuk kepentingan-kepentingan tertentu, yakni nilai relasional antara manusia dan alam, manusia dan manusia, dan nilai penghormatan terhadap manusia. Jika lahirnya ilmu saja terkait dengan nilai, maka ilmu itu sendiri tidak mungkin bekerja lepas dari nilai.


 

II. 3. Kebebasan Ilmu pengetahuan

            Ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai – nilai yang letaknya di luar ilmu pengetahuan, hal ini dapat juga di ungkapkan dengan rumusan singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas.[3] Maksud dari kata kebebasan adalah kemungkinan untuk memilih dan kemampuan atau hak subyek bersangkutan untuk memilih sendiri. Supaya terdapat kebebasan, harus ada penentuan diri dan bukan penentuan dari luar. Jika dalam suatu ilmu tertentu terdapat situasi bahwa ada berbagai hipotesa atau teori yang semuanya tidak seluruhnya memadai, maka sudah jelas akan di anggap suatu pelanggaran kebebasan ilmu pengetahuan, bila suatu instansi dari luar memberi petunjuk teori mana harus di terima. Menerima teori berarti menentukan diri berdasarkan satu – satunya alasan yang penting dalam bidang ilmiah, yaitu wawasan akan benarnya teori. Apa yang menjadi tujuan seluruh kegiatan ilmian disini mecapai pemenuhannya. Dengan demikian penentuan diri terwujud sunguh – sungguh. Walaupun terlihat dipaksakan, namun penentuan diri ini sungguh bebas, karena dilakukan bukan berdasarkan alasan – alasan yang kurang dimengerti subyek sendiri melainkan berdasarkan wawasan sepenuhnya tentang kebenaran.


 

II. 4. Kegiatan Nilai dan Nilai Etisnya

            Dalam kaitan dengan otonomi ilmu pengetahuan, masih ada hal lain yang perlu kita perhatikan. Otonomi ilmu pengetahuan tentu tidak bisa dan tidak boleh berarti bahwa penelitian ilmiah tidak perlu menghiraukan nilai luar ilmiah apa pun. Pada situasi konflik perlu diperhatikan bahwa konflik sebenarnya tidak berlangsung antara nilai – nilai etis di suatu pihak dan nilai – nilai ilmiah di lain pihak.  Dikarenakan kewajiban etis bersifat absolut. Ilmu pengetahuan tidak pernah bebas nilai, dikarenakan ia sendiri mengejawantahkan suatu nilai etis, bertambah relevansi etisnya karena semakin erat kaitannya dengan praksis.


 


 

II. 5. Bebas Nilai dan Obyektifitas

            Salah satu kesulitan yang dihadapi ilmu – ilmu manusia ialah cara khusus manusia terlibat dalam ilmu – ilmu itu, sebagai subyek maupun obyek. Ia terlibat sebagai subyek tentu karena dialah yang mempraktekkan ilmu pengetahuan alam. Tapi ia terlibat sebagai obyek, hanya sejauh ia sebagai makhluk alam bisa menjadi pokok pmbicaraan ilmu alam. Sebab, sebagai makhluk alam ia dikuasai oleh hukum – hukum fisis, kimiawi, dan biologis. Tetapi kegiatan yang dilakukan ilmu alam tidak merupakan obyek penelitian ilmu alam. Karena ilmu alam merupakan suatu aktivitas manusiawi yang khas.


 

II. 6. Teori dan Bebas Nilai

            Sejak ilmu pengetahuan di tandai pertautan antara teori dan praksis, maka apa yang berlaku bagi praksis berlaku juga bagi teori, karena yang terakhir tidak dapat berkembang tanpa praksis. Walaupun pengalaman eksperimental dalam ilmu – ilmu manusia sangat di perlukan, namun satu – satunya arah yang mengizinkan eksperimentasi adalah arah menuju kemanusian yang lebih baik serta utuh dan menuju suatu bentuk kemasyarakatan yang memungkinkan hal itu. Dalam hal ini, tuntutan tadi bukanlah tuntutan yang berasal dari luar, bukan sesuatu yang diperintahkan oleh etika kepada ilmu – ilmu manusia. Tuntutan itu berasal dari obyek ilmu itu sendiri, yaitu manusia. Siapa yang ingin mengetahui sesuatu tentang manusia, harus melihatnya sebagai makhluk yang hidup dalam ketegangan antara apa adanya dan apa seharusnya ada.


 

BAB III

PENUTUP


 

III. 1. Kesimpulan

            Dalam menggunakan ilmu pengetahuan, seharusnya melihat berbagai aspek. Baik dari segi norma, sosial, dan kegunaan dari ilmu sendiri. Karena hasil dari ilmu, pasti akan berdampak besar dengan yang lainnya. Seperti kemajuan ilmu pengetahuan suatu negara akan mendorong perekonomian negara tersebut. Sehingga ilmu itu harus terikat nilai. Karena perlu di perhatikan faktor sebab dan akibat dalam penggunaan ilmu pengetahuan. Dan juga subyek dan obyek ilmu sendiri adalah manusia, sehingga karena manusia memiliki tatanan nilai lainnya, tentunya akan mempengaruhi dalam penggunaan ilmu.


 

DAFTAR PUSTAKA


 

Amsal Bakhtiar. Filsafat ilmu. 2005. Jakarta : Raja Grafindo Persada

Franz Magnis Suseno. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. 2010. Yogyakarta: Kanisius

Prof. Dr. A.G.M van Melsen. Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab Kita. 1992.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Prof. Dr. H. Bachri Ghazali, Dkk. Filsafat Ilmu. 2005. Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga

Rizal Mustansyur dan Misnal Munir. Filsafat Ilmu. 2009. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


 


 

[1] Rizal Mustansyur dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, 2009, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Hlm. 171

[2]
Ibid. Hlm. 169

[3] A.G.M van Melsen, Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab Kita, 1992,  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, Hlm. 1992

Senin, 19 Desember 2011
JAKARTA: Starting a new school year 2011/2012, the government will implement character education starting from early childhood education (early childhood) through college.
"Character education materials are also included non-formal education and informal education given the current character to be the most urgent needs," said Education Minister Mohammad Nuh became coaches after the ceremony at the National Education Day celebration (Hardiknas) Year 2011 in the Ministry of National Education, Jakarta, today .
The target of all schools must provide character education and Hardiknas theme this year is the Character Education as a pillar of the National Awakening to Reach Achievement subtema Budi Pekerti cherish.


He reminded the essence of education that has been emphasized by the father of Ki Hajar Dewantoro national education. "Education is an effort to advance the character (inner strength and character), mind, and body protege," he said.
Noah emphasized the importance of character-based education with all its dimensions and its variations. Characters who want to build not just based on sheer self-glory but the glory as a nation.
"The character we want to build not only civility, but at the same time we build a character that is able to grow as the embitterment of intellectual capital to build creativity and innovation," he said.
Minister delivered, the concept of character education has been prepared since last year. He mentioned, there are three groups of characters that is growing awareness education learners as creatures of God the Almighty, the growth of intellectual kepenasaran to build knowledge, and the growing sense of pride in the way of achievement.
"From the achievement craze that later would appear we are the Indonesian pride," he said.
The minister explained, the shape of the character education curriculum is realized starting from culture to culture in the school building.
Character education is not only taught through the board, but must go through acculturation. "Do not get stuck just on the cognitive, but must be translated into the realm of behavior," he said. (Ra)
Jumat, 16 Desember 2011
13235061311675400325Yogyakarta, December 10 20 011
"Waaahh? How could you? Though his writings were not there you know, we are suddenly there? from where? ", said a student in Yogyakarta MI Wahid Hashim, when he joined the elementary school science fairs held Chemistry Education Program UIN Sunan Kalijaga, Today (Saturday, December 10, 2011) which was held in Yogyakarta, MI Wahid Hashim.
The other disciples had seen enthusiastically follow a number of exhibitions that demonstrated by the students of Chemical Education. The exhibition itself is a task of lecture courses "Elementary Science", as said by the Chairman of the Department of Chemistry Education UIN Sunan Kalijaga, Esti Widowati revelation, that this activity is a routine task and implemented as a final project course aimed at elementary school science as a form of implementation of the theories that have been obtained by the students.
This activity itself has been running for three years by taking a place that is always different, but still at primary school level, with the aim that there is communication between students and the introduction of elementary school students. Vice versa, the elementary students are expected to be more easily understood by science symptoms that are often encountered in daily life.
In his speech, the head of MI Wahid Hashim, welcomed well over an exhibition that was held by students UIN Sunan Kalijaga. The message he convey to foster children is to follow the event so well because it is not necessarily the years ahead such events held there and here (MI Wahid Hashim).
Separately, a number of students who stand guard to prepare various forms of activities related to science, began to make a periscope props, simple rocket from matchsticks, eggs are inserted in a bottle, a replica of the volcano and many more performances on display. This event was not only followed by the disciples MI Wahid Hashim, but the teacher was seen enthusiastically followed and occasionally asked how the concept of the displayed experiment work.
"Well it feels tired, but happy too," commented a student who was so engrossed in waiting stand. According to him, make a demonstration for elementary science is not an easy thing because they have to think about whether the show that made it acceptable for the level of primary school or not. "According to our simple, but not necessarily easy for the younger kids (elementary school students). This is where we are required to pour creative ideas are readily accepted as well as appealing to them (elementary students), "added the student.